You are viewing: MUSIHOVEN » HOME » BLOGS » Sharing » Experiences » Haji
|
If you can see this, then your browser cannot display the slideshow text.
|
Perjalanan Haji
Oleh: Dr. H. Zalfany Urfianto
Dari perjalanan kami dalam menunaikan ibadah haji pada bulan Desember 2008 yang lalu, kami mencatat setidaknya ada tiga pengalaman penting yang kami harapkan bermanfaat untuk dibagi dengan rekan-rekan yang juga berencana untuk menunaikannya.
I. Berilmu sebelum beramal
II. Persiapan fisik
III. Cadangan sabar
I. Berilmu sebelum beramal
Berilmu sebelum beramal adalah kaidah umum yang berlaku untuk semua bentuk ibadah, dan hal ini terasa lebih signifikan dalam kaitannya dengan ibadah haji.
Sebelum berangkat, kita harus mempelajari secara benar apa saja amalan-amalan yang harus dilakukan atau hal-hal yang harus dihindari selama melakukan haji. Dengan memiliki ilmu, maka kita melakukan ritual ibadah adalah dengan dasar/dalil yang kuat dan kita pahami. Tidak hanya karena ikut-ikutan karena melihat orang lain melakukan sesuatu (yang mungkin saja justru adalah hal-hal yang merusak keimanan kita).
Selain itu, dengan memiliki ilmu kita akan bisa melakukan ibadah secara mandiri, tidak harus tergantung dengan rombongan.
Hal ini penting karena meskipun kita berangkat bersama-sama dan sudah berencana untuk melakukan ibadah dengan rombongan kita, ada saja kemungkinan kita terpisah dengan rombongan. Misalnya, ketika sedang melakukan thawaf, apabila kita batal wudhu, maka kita tidak bias mengharapkan rombongan untuk menunggu kita memperbarui wudhu. Tentu saja dengan demikian maka lanjutan thawaf harus kita jalani sendiri. Dengan bekal ilmu yang baik, hal ini tidak akan menyebabkan kesulitan bagi kita untuk menunaikan ibadah kita dengan sempurna.
Persiapan berilmu bisa dilakukan dengan berbagai cara. Yang paling baik tentu saja adalah melalui bimbingan ustadz / guru yang kita kenal. Untuk kondisi di Belanda yang mungkin tidak mudah menemukan ustadz seperti ini, masih ada alternatif seperti melalui mendengarkan rekaman-rekaman manasik atau mempelajari literatur-literatur.
Beberapa hal yang penting untuk dipelajari adalah sebagai berikut:
a. Tata cara (manasik haji Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wasallam)
Salah satu syarat diterimanya amal ibadah adalah bahwa ibadah ini dilakukan sesuai dengan contoh yang telah diberikan oleh Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wasallam. Untuk itu hal yang paling penting yang harus kita pelajari adalah tata cara haji sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wasallam.
Dokumen berikut adalah salah satu literatur yang menerangkan tentang manasik haji Rasulullah sallallaahu `alaihi wasallam. (download: HajiUmrahSepertiRasulullah-nashirudinalalbani.PDF).
b. Amalan-amalan utama
Tanah suci Mekkah (dan Madinah) adalah tempat-tempat paling baik di muka bumi untuk melakukan ibadah. Dengan mengetahui tempat-tempat, waktu-waktu, dan amalan-amalan yang paling baik dilakukan selama di sana, mudah-mudahan semakin mudah kita dalam mendapatkan rahmat Allah subhanahu wata’ala.
c. Larangan-larangan
Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah mempelajari larangan-larangan yang harus dihindari selama melakukan ibadah haji. Larangan-larangan umum untuk mencapai haji mabrur, semisal rofats, fusuq, dan jidal tentu saja harus dipahami dengan baik.
Larangan-larangan yang lain yang terkait dengan kondisi, semisal larangan ketika dalam keadaan ihrom juga harus dipahami dengan baik.
d. Kesalahan-kesalahan
Selain larangan, harus dipelajari juga tentang kesalahan-kesalahan yang banyak dilakukan oleh para jamaah haji (mudah-mudahan mereka melakukannya karena ketidak tahuan dan bukan karena kesengajaan).
Contohnya adalah mengejar hal yang sunnah dengan cara melakukan hal yang diharamkan. Mencium hajar aswad ketika thawaf adalah salah satu sunnah, namun kalau untuk mencapainya adalah dengan cara menyakiti saudara/i muslim di sekitarnya (yang tentu saja adalah hal yang haram), maka hal ini sudah seharusnya kita hindari.
e. Khurafat (takhayul)
Karena kesuciannya, sangat disayangkan juga banyak sekali khurafat atau takhayul yang beredar di kalangan umat Islam berkaitan dengan tempat-tempat / hal-hal di tanah haram.
Sebagai contoh misalnya adalah dengan sengaja membawa batu dari tanah haram untuk dipakai sebagai jimat di kampung halaman. Bukan saja membawa batu / tanah keluar dari tanah haram adalah sesuatu yang dilarang, memakainya sebagai jimat atau mempercayai bahwa batu-batu tersebut mempunyai kekuatan adalah termasuk syirik / menyekutukan Allah. Na’udzubillahi min dzaalik.
II. Persiapan Fisik
Sebelum berangkat, kami sudah banyak mendengar dan membaca nasehat bahwa rangkaian ibadah haji berisikan kegiatan-kegiatan yang menuntut fisik yang prima. Setelah sampai di tanah suci dan melakukan rangkaian ibadah itu, barulah kami menyadari sepenuhnya kebenaran nasehat-nasehat ini .
Selain faktor ibadahnya sendiri yang melibatkan banyak kegiatan fisik seperti berjalan kaki (dan berdesak-desakan), banyak faktor lain yang menuntut ketahanan fisik kita. Selama haji, ada kemungkinan kita tidak akan bisa beristirahat sebaik dan sebanyak biasanya. Ada juga kemungkinan ketidak cocokan akan makanan yang kita dapatkan di sana. Selain itu, faktor cuaca yang berbeda dengan yang biasa kita hadapi bisa jadi akan sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik kita.
Persiapan yang disarankan antara lain adalah membiasakan diri untuk berjalan kaki. Selama beribadah, banyak sekali aktifitas berjalan kaki yang harus kita lakukan. Jarak jalan yang harus ditempuh selama thowaf dan sa’i bisa mencapai 5 km atau bahkan lebih. Untuk itu jauh sebelum kita berangkat, mulai biasakan untuk berjalan kaki minimal sejauh 5 km.
Yang juga perlu dibiasakan adalah berjalan tanpa alas kaki. Tawaf dan sa’i dilakukan di dalam Masjidil Haram sehingga alas kaki (sepatu/sandal) dilepas. Apabila kita belum terbiasa berjalan di atas lantai tanpa alas kaki, telapak kaki bisa terasa sakit sekali . Untuk itu, sebagian latihan seperti disebutkan sebelumnya perlu juga mencakup latihan berjalan tanpa alas kaki di atas lantai / beton.
III. Cadangan Sabar
Adalah hal yang sangat sering terdengar ketika berada di tanah suci: “Sabr hajj, sabr” (salah satu dari sedikit kosakata bahasa arab yang kami pelajari selama di sana ). Dengan begitu banyak manusia datang dari berbagai penjuru dunia, memang potensi terjadinya gesekan dan konflik adalah sangat besar.
Karena itu memang satu hal yang harus dipersiapkan dengan tidak terbatas adalah kesabaran .
Berikut adalah catatan tentang persiapan untuk berangkat haji dari Belanda
I. Persyaratan administratif
- Harus melalui agen perjalanan resmi.
Permohonan visa di kedutaan Saudi Arabia hanya bisa dilayani secara kolektif melalui agen perjalanan resmi. Daftar agen perjalanan resmi ini bisa dilihat di: http://www.hajinformation.com/main/n71.htm - Paspor + Foto + Verblijfvergunning (menunjukkan domisili di Belanda)
- Untuk perempuan usia kurang dari 45 tahun, harus mempunyai mahram yang bepergian bersama. Untuk yang berusia lebih dari 45 tahun, pimpinan perjalanan (imam) bisa menjadi mahram.
- Menyerahkan buku vaksinasi (warna kuning), minimal menunjukkan sudah divaksinasi meningitis.
Untuk vaksinasi bisa dilakukan di GGD (afspraak bisa dilakukan secara online di: https://www.ggdreizigerszorg.nl/ ). Biaya untuk tahun 2008 adalah 53 euro (37 euro vaksinasi + 16 euro biaya konsultasi dokter) per orang.
Optional, bisa juga menambah dengan imunisasi lain seperti influenza.
II. Agen dan paket perjalanan
- Pada umumnya jangka waktu perjalanan ibadah haji dari eropa adalah 3 minggu.
- Waktu survey / pendaftaran ke agen perjalanan paling baik dilakukan setelah bulan Ramadhan.
- Perlu berhati-hati dalam memilih agen perjalanan. Banyak kasus dimana pada akhirnya jamaah gagal berangkat atau bahkan lebih buruk lagi uang yang sudah disetorkan hilang dibawa lari. Reputasi agen perjalanan perlu dikonfirmasikan kepada orang yang kita percaya dan kenal baik.
III. Biaya
Biaya perjalanan (tahun 2008) umumnya dimulai dari sekitar 2700 euro sampai dengan mencapai 6000 euro. Faktor yang mempengaruhi perbedaan harga di antaranya adalah jarak tempat penginapan dengan masjid (dan juga berapa orang yang akan sharing dalam satu ruangan, bisa juga suami istri berada dalam ruangan yang sama), konsumsi termasuk dalam paket atau tidak. Apa saja yang termasuk dalam biaya yang dibayarkan harus ditanyakan dengan baik sebelum melakukan pembayaran.
Biaya ini perlu ditambah lagi dengan bekal yang akan dihabiskan selama di Saudi. Umumnya bekal 200 euro sudah lebih dari cukup untuk keperluan selama di sana.
Sebagai perbandingan, biaya ONH dari Indonesia untuk tahun 2008 adalah USD 3.258 s/d USD 3.517 (tergantung dari embarkasi mana). Sedangkan untuk ONH plus (atau ++++) adalah antara 65 juta s/d 95 juta rupiah.
Dari data di atas, dengan fasilitas yang diterima kurang lebih sama, secara kasar bisa dilihat biaya perjalanan dari Eropa kurang lebih 20% – 25% lebih mahal daripada biaya ONH biasa dari Indonesia.
Kekurangan dan kelebihan berangkat haji dari Eropa dibandingkan dengan mendaftarkan melalui ONH biasa dari Indonesia bisa dilihat di tabel berikut.
| Dari Eropa | ONH Biasa (Depag) | |
| + |
|
|
| - |
|
|
___________________________________________________________
NB: (Tambahan moderator)