You are viewing: MUSIHOVEN » HOME » MULTIMEDIA » Articles » Ubudiyah » Shalat

Slideshow image
If you can see this, then your browser cannot display the slideshow text.

Syarat Sah Sholat

Syarat-syarat sholat (ada 8), adalah hal-hal yang harus dipenuhi selama shalat, yaitu :

  1. Suci dari 2 hadas:
  2. dan suci dari segala najis pada pakaian dan badan dan tempat ,
  3. dan menutup aurat ,
  4. dan menghadap kiblat ,
  5. dan masuk waktu ,
  6. dan mengetahui dengan fardhu-fardhunya ,
  7. dan bahwa jangan ia beri’tiqod akan yg fardhu daripada fardhu-fardhu sholat akan sunah ,
  8. dan meninggalkan segala yg membatalkan sholat.

Hadas

Hadas itu terbagi 2

  1. Hadas kecil, yaitu apa-apa yg mewajibkan wudhu sedangkan
  2. Hadas besar, yaitu apa-apa yg mewajibkan mandi

Najis

Segala najis yaitu 3 :

  1. najis berat (mughollazhoh), yaitu najis anjing dan babi dan anak-anak dari salah satu keduanya.
  2. Najis Mughollazhoh atau berat suci ia dengan membasuhnya 7 kali sesudah menghilangkan dzatnya salah satunya dengan tanah

  3. najis ringan (mukhaffafah), yaitu kencing anak kecil yang tidak makan selain air susu dan belum sampai umurnya 2 tahun.
  4. najis Mukhoffafah atau ringan suci ia dengan memercikkan air diatasnya serta rata dan sudah hilang dzatnya

  5. najis sedang (mutawassithoh), yaitu semua najis selain yang telah disebutkan.

    Najis mutawassithoh terbagi 2:

    1. ‘Ainiyyah

       

      yaitu sesuatu yg baginya ada warna dan bau dan rasa maka tidak boleh tidak dari menghilangkan warnanya dan baunya dan rasanya .

    2. Hukmiyyah

      yaitu yg tidak ada warna dan tidak ada bau dan tidak ada rasa maka cukup mengalirkan air diatasnya .

    Najis yang Menjadi Suci

    Najis yang menjadi suci yaitu 3: Khomr apabila jadi cuka dengan sendirinya, dan kulit bangkai apabila disamak, dan apa-apa yg jadi binatang .

Aurat


Segala aurat itu terbagi 4 :

  1. Aurat laki-laki di dalam dan di luar sholat dan budak perempuan secara mutlak di dalam sholat yaitu apa-apa yg diantara pusar dan lutut ,
  2. Aurat perempuan yg merdeka di dalam sholat yaitu seluruh badannya selain wajah dan 2 telapak tangan ,
  3. Aurat perempuan yg merdeka dan budak perempuan disisi orang yg asing yaitu seluruh badan
  4. Aurat perempuan disisi mahromnya dan sekalian perempuan yaitu apa-apa yg diantara pusar dan lutut .

Rukun Sholat

Rukun-rukun sholat (ada 17) adalah hal-hal yang harus dikerjakan dalam sholat (urutan pekerjaan), yaitu:

  1. niat ,
  2. takbirotul ihrom ,
  3. berdiri atas orang yg mampu ,
  4. membaca Fatihah ,
  5. ruku’ ,
  6. tuma’ninah di dalam ruku’ ,
  7. i’tidal ,
  8. tuma’ninah di dalam i’tidal ,
  9. sujud 2 kali,
  10. tuma’ninah di dalam sujud,
  11. duduk antara 2 sujud ,
  12. tuma’ninah di dalam duduk antara 2 sujud ,
  13. tasyahhud akhir ,
  14. duduk di dalam tasyahhud akhir ,
  15. sholawat atas Nabi SAW ,
  16. salam ,
  17. tertib

Niat

Niat itu 3 derajat ,

  1. jika adalah sholat itu fardhu maka wajib Qoshdu Fi’il[1] dan Ta’yin[2] dan Fardhiyyah[3],
  2. dan jika adalah sholat itu sunah yg ditentukan waktunya atau memiliki sebab maka wajib Qoshdu Fi’il dan Ta’yin ,
  3. dan jika adalah sholat itu sunah mutlak maka wajib Qoshdu Fi’il saja .

Tuma’ninah

Tuma’ninah yaitu diam setelah bergerak dengan sekira-kira diam tetap seluruh anggota pada tempatnya dengan sekedar bacaan Subhanalloh.

 

M. Islahuddin
(Sumber: Safiinatun Najah)

[1] Al-’Fi’lu yaitu kalimat Usholli

[2] Ta’yin yaitu kalimat Zhuhur atau ‘Ashar

[3] Fardhiyyah yaitu kalimat Fardhon

Kang Idoy
(Jan 2, 2009)

Berkaitan dengan  Qoshdu fi’il (baca niyat Usholli), saya mau berbagi wawasan. Saya coba kutip (terjemahkan dengan keterbatasan pemahaman bahasa arab saya) sebagian fashal ‘Petunjuk Nabi saw dalam shalat’ dari Zaadul ma’aad karya Ibnu AlQayim Rahimahullaah : Adalah Nabi saw apabila beliau berdiri untuk shalat, ia berkata Allaahu Akbar. Beliau tidak mengatakan apapun  sebelumnya [sebelum takbir],dan  beliau  sama sekali tidak  melafadzkan niyat (talaffazha binniyati), dan beliau tidak mengatakan Ùsholliy lillaahi sholatan kaadza mustaqbilal qiblati arba’a rak’atin imaaman au ma’muuman, dan ia tidak berkata adaa-an wa laa qadlaa-ann,….

Selanjutnya  Ibnu AlQayyim menuliskan bahwa hal seperti di atas tidak ada tercatat dalam suatu riwayat shahih, atau bahkan dhaif, tidak tercatat dalam riwayat tersambung (sampai Nabi saw) atau bahkan mursal (tidak sampai kepada Nabi saw),  tidak ada dari (tatacara) sahabat atau bahkan istihsan taabi’iin, dan tidak dari ulama yang empat.  Hanya saja sebagian ulama mutaakhirin  terperdaya oleh ucapan Iman Syafii rahimahullaah tentang shalat: dan janganlah seseorang masuk padanya (shalat), kecuali dengan dzikir. Maka mereka menduga yang dimaksud dengan dzikir itu adalah talaffazha binniyati. Padahal yang dimaksud oleh  Imam syafii adalah takbiratul ihram. Selanjutnya Ibnu AlQayyim menuliskan : (kira-kira)  bagaimana mungkin Imam Syafii akan memandang baik sesuatu  hal dalam shalat yang bertentangan dengan contoh Nabi saw.

Islah
(Jan 12, 2009)

Semua tentu sepakat bahwa niat itu wajib dan tempatnya adalah di dalam hati. Hal tsb dperlukan untuk: 1)membedakn ibadah dg aktivitas kebiasaan 2)membedakn ibadah dg ibadah lainnya. Yang menjadi perbedaan pendapat adalah tentang pelafalan niat. Mari kita tinjau saja dari madzhab yg 4.

Pelafalan niat disunnahkn mnrt Syafi'iyah dan Hanabilah, dan tidak demikian mnrt Hanafiyah dan Malikiyah. Hal ini berdasarkan qiyas (salah satu dari dasar hukum Islam: Quran, Hadits, Ijma, Qiyas) dari pelafalan haji yang pernah dilakukan Rasul menurut hadis:

Dari Anas r.a. berkata: Saya mendengar Rasullah saw mengucapkan, “Labbaika, aku sengaja mengerjakan umrah dan haji”." (HR. Muslim).

Semoga perbedaan yg ada menjadi rahmat.

Wallaahu a'lam...

Kang Idoy
(Jan 19, 2009)
Kutipan dari buku ‘Koreksi Total Ritual Shalat, Abu Ubaidah Masyhurah bin Hasan bin Mahmud bin Salman (penerjemah: W. Djunaedi  S, S.Ag), Pustaka Azzam,1993’, halaman 100-101, ditandai oleh {…}:

{Abu Abdillah al Zubairi yang masih termasuk ulama madzhab Syafi’I  telah keliru ketika menyangka bahwa al Imam al Syafi’i rahimahullaahu ta’aala telah mewajibkan untuk melafadzkan niat ketika seseorang shalat.

Sebab kekeliruannya itu adalah karena kurang begitu bisanya dia menangkap dan memahami perkataan al Syafi’i dengan benar.  Berikut ini adalah redaksi  yang diutarakan oleh al Syafi’i: ‘’Jika seseorang berniat menunaikan ibadah haji atau umrah dianggap cukup sekalipun tidak dilafadzkan. Tidak seperti shalat, tidak dianggap sah kecuali dengan AL NUTHQ (diartikan oleh al Zubairi dengan melafadzkan. Sedang yang dimaksud oleh AL NUTHQ  oleh beliau adalah takbir) [al Majmuu’ II/243]’’.

Al Nawawi berkata:’’ Beberapa rekan kami berkata:’’ Orang yang mengatakan itu telah keliru. Bukan itu yang dikehendaki oleh al Syafi’i dengan kata AL NUTHQ di dalam shalat. Akan tetapi yang dimaksud dengan AL NUTHQ oleh beliau adalah takbir’’’’ [ibid. Lihat juga al Ta’aalaim karya al Syaikh Bakar Abu Zaid halaman 100].

Ibn Abi al ‘Izz al Hanafi berkata:’’ Tidak ada seorang ulama pun dari imam empat, tidak al Syafi’i maupun lainnya yang mensyaratkan melafadzkan niat. Menurut kesepakatan mereka, niat itu tempatnya di  dalam hati. Hanya saja sebagian ulama belakangan mewajibkan seseorang melafadzkan niatnya dalam shalat. Dan pendapat ini digolongkan sebagai madzhab al Syafi’i. Al Nawawi  rahimahullaah berkata: ‘’ Itu tidak benar’’’’[al Itbaa’ halaman 62].

Ibn Al Qayyim berkata:’’ Rasulullaah saw jika hendak mengerjakan shalat maka dia mengucapkan Allaahu Akbar. Dan beliau tidak mengucapkan lafadz apapun sebelum itu dan tidak pernah melafadzkan niat sama sekali. Beliau juga tidak mengucapkan Ushalli lillaah shalaata kadzaa mustaqbil al qiblah arba’a raka’aat imaaman aw ma’muuman. Rasulullaah saw tidak pernah mengatakan adaa’aa atau qadlaa’an, dan tidak pernah juga menyebutkan kefardhuan waktu shalat. Semua itu adalah bid’ah yang tidak ada sumbernya dari seorangpun baik dengan sanad shahih, dhaif, musnad, maupun mursal. Bahkan tidak juga dinukil dari seorang sahabat nabi, para tabi’in, dan imam empat.

Pendapat ini muncul akibat sebagian ulama belakangan yang terkecoh dengan perkataan al Syafi’I di dalam masalah shalat. Redaksinya sebagai berikut:’’Sesungguhnya shalat itu tidak seperti puasa. Tidak ada seorangpun yang akan memasuki shalat kecuali dengan dzikir’’. Kata dzikir di sini dikira pelafadzan niat oleh orang yang shalat. Padahal yang dimaksud oleh al Syafi’I dengan kata dzikir di sini adalah Takbiratul ihram. Bagaimana mungkin al Syafi’I mensunahkan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi saw, tidak juga oleh para khulafa’nya, dan para sahabatnya…..[Zaad al Ma’aad I/201].

Dari semua keterangan di atas kami menyimpulkan sebagai berikut: Bahwa semua nash yang dikemukakan para ulama yang berasal dari tempat berbeda dan pada generasi berbeda yang tidak bersamaan mengatakan, bahwa mengeraskan suara ketika membaca lafadz niat adalah BID’AH. Barangsiapa yang mengatakan bahwa itu sunah, berarti dia telah salah memahami perkataan al Syafi’i}

Kalau saya simpulkan maka pelafadzan niat ketika hendak shalat tidak ada contohnya, bahkan al Syafi’i  sendiri (+3 imam lainnya) tidak pernah mencontohkannya. Pelafadzan niat hanya interpretasi dari sebagian ulama madzhab Syafi’i.   Masalah ini bukan lagi masalah perbedaan pendapat berdasarkan dalil masing-masing yang sahih, akan tetapi masalah perbedaan pendapat dimana  satu pihak tidak mendasarkan pandangannya dengan dalil yang sahih. Berkaitan dengan qiyas, qiyas itu tidak menjadi suatu dasar yang muthlaq untuk suatu urusan.

Terakhir, saya kutip ucapan al Syafi’I (Buku Kumpulan Risalah A. Hassan, A. Hassan, Pustaka Elbina, 2005): -Apabila sah khabaran (dari Nabi saw) yang menyalahi madzhabku, maka turutlah khabar itu dan ketahuilah bahwa itulah madzhabku.-Tiap-tiap masalah yang sah padanya khabar  dari Rasulullaah saw menyalahi fatwaku, maka aku ruju’ daripadanya di waktu aku hidup dan sesudah aku mati.
Pharma633
(Jan 23, 2014)
Hello! ceekegf interesting ceekegf site! I'm really like it! Very, very ceekegf good!
Pharmd797
(Jan 23, 2014)
Hello! abddkgf interesting abddkgf site! I'm really like it! Very, very abddkgf good!
Pharme651
(Feb 10, 2014)
Hello! degkddb interesting degkddb site! I'm really like it! Very, very degkddb good!
captcha
 
TADARUS WITH US!


RAMADAN Special:
Tadarus Everyday
20.00 C.E.T(GMT +1)


My status
JADWAL SHALAT EINDHOVEN[?]


PARTISIPASI

Musihoven membuka kesempatan bagi umum untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan dakwah Islam. Untuk berpartisipasi, klik link ini