You are viewing: MUSIHOVEN » HOME » BLOGS » Articles » Reflections » ...namun, dimanakah Allah?
|
If you can see this, then your browser cannot display the slideshow text.
|
…namun, dimanakah Allaah?
Oleh: Kang Idoy
Segala puji bagi Allaah, sang Pencipta, Pengatur, dan Penguasa tunggal bagi segenap kehidupan di jagat raya ini. Kita (manusia) sebagai salah satu titah dan hambaNya, wajib senantiasa mensyukuri segenap rahmat dan karuniaNya, dengan cara mendayagunakan segenap rahmat dan karuniaNya itu sesuai dengan fungsinya serta mengikuti petunjuk dan aturanNya. Dengan kata lain, kita dayagunakan segenap karunia Allaah yang beraneka ragam itu untuk beribadah, mengabdi sepenuhnya kepadaNya, karena kehadiran kita di planet bumi ini tiada lain memang untuk beribadah dan mengabdi kepadaNya semata.
Segala puji bagi Allaah, sang Pencipta, Pengatur, dan Penguasa tunggal bagi segenap kehidupan di jagat raya ini. Kita (manusia) sebagai salah satu titah dan hambaNya, wajib senantiasa mensyukuri segenap rahmat dan karuniaNya, dengan cara mendayagunakan segenap rahmat dan karuniaNya itu sesuai dengan fungsinya serta mengikuti petunjuk dan aturanNya. Dengan kata lain, kita dayagunakan segenap karunia Allaah yang beraneka ragam itu untuk beribadah, mengabdi sepenuhnya kepadaNya, karena kehadiran kita di planet bumi ini tiada lain memang untuk beribadah dan mengabdi kepadaNya semata.
Beribadah kepada Allaah, yang intinya patuh dan tunduk kepadaNya dengan menjalankan segenap perintah dan menjauhi segenap laranganNya itu bukanlah untuk kepentingan Allaah. Akan tetapi, kembali untuk kepentingan dan keuntungan manusia itu sendiri, baik selagi hayatnya di dunia yang kini maupun di saat kembali ke hadiratNya di akhirat nanti. Dengan beribadah kepadaNya secara tulus dan istiqamah, maka manusia akan terpelihara dari berbagai kezaliman yang pada gilirannya akan menyengsarakan dirinya sendiri. Segenap perintah Allaah mengacu pada kebaikan, karena itu bila ditunaikan maka akan mendatangkan kebaikan, kemaslahatan, kebahagiaan dan kehormatan bagi manusia. Sebaliknya, segenap larangan Allaah pada gilirannya akan menyeret pada kerugian, kesengsaraan dan kehinaan bagi manusia. Demikian hakikat tujuan beribadah kepada Allaah; firman Allaah mengingatkan kepada manusia;” Wahai manusia, kamulah yang sesungguhnya berkeperluan kepada Allaah, dan Allaah itu Dialah yang Maha Kaya lagi Maha terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia berkuasa untuk memusnahkanmu, dan menggantikannya dengan generasi lain yang baru. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak menyulitkan bagi Allaah” (Faathir 15-17).
Menyadari demikian penting kedudukan ibadah bagi hidup dan kehidupan manusia, maka sepatutnya manusia senantiasa meningkatkan kualitas ibadahnya, kepatuhan dan ketaqwaan kepada Allaah swt. Agar kemudian, kualitas hidup dan kehidupan manusia pun semakin meningkat. Kedudukan manusia sebagai hamba Allaah semakin luhur dan terhormat; semulia-mulia manusia dalam pandangan Allaah adalah mereka yang paling bertaqwa, patuh dan taat kepadaNya.
Hal utama yang perlu kita lakukan dalam rangka meningkatkan kualitas ibadah adalah dzikrullaah, senantiasa sadar, ingat kepada Allaah, di mana dan kapan saja kita berada. Dzikrullaah yang dimaksud bukan hanya sekedar eling. Tetapi yang dimaksud adalah suatu kesadaran yang hidup dan aktif, punya konsepsi yang jelas dan konsekuensi amaliyah yang nyata. Iman bukanlah sekedar khayalan dan bukan pula sekedar perhiasan bibir belaka, akan tetapi ia suatu kesadaran yang tertanam kokoh dalam qalbu dan dibuktikan dengan perbuatan nyata.
Dzikrullaah adalah kunci utama untuk meraih kebahagiaan dan kejayaaan. Dengan dzikrullaah orang akan menjadi sadar bahwa dirinya senatiasa dipantau dan dilihat oleh Allaah swt. Dengan demikian dia akan selalu menyesuaikan diri dalam segenap perilakunya dengan petunjuk dan aturan Allaah swt. Dzikrullaah adalah sumber penggerak dan sekaligus daya kendali bagi setiap aktifitas hidup seorang muslim, dimana dan kapan saja ia berada, dalam menggapai keridlaan ilahi. Ketahuilah, dengan mengingat Allaah hati akan menjadi tentram.
Di dalam AlQuran banyak kita jumpai perintah untuk senantiasa mengingat Allaah dalam berbagai aktifitas yang dilakukan, antara lain ”Maka apabila telah usai ditunaikan shalat jumat, segeralah kamu bertebaran di muka bumi ini, dan carilah karunia Allaah, dan selalulah mengingat Allaah supaya kamu memperoleh kebahagiaan”(AlJum’ah 10). Ayat ini memberikan pedoman bahwa dzikrullaah tidak hanya harus dilakukan di mesjid saja, tetapi harus juga dilakukan di sembarang tempat, dimana saja kita berada. Baik saat di kantor, di pabrik, di toko, di pasar, di perjalanan, maupun di ladang. Walhasil, dzikrullaah harus senantiasa dilakukan di mana dan kapan saja, dalam kondisi dan situasi apapun, ”Maka apabila kamu telah melakukan shalat, hendaklah mengingat Allaah, baik di saat berdiri, di saat duduk, maupun di saat berbaring” (AnNisa 103).
Kemudian, soal berhasil tidaknya kita dalam meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan, khususnya dzikrullaah, itu semua sangat tergantung pada sejauh mana mujahadah (kesungguhan) kita dalam memanfaatkan berbagai kesempatan. Semakin tinggi mujahadah seseorang dalam memanfaatkan kesempatan yang ada, tentu semakin tinggi pula tingkat keberhasilannya. Demikian pula sebaliknya, semakin lemah mujahadahnya, semakin rendah pula tingkat keberhasilan yang dicapainya.
Namun meski demikian, ada sejumlah indikasi yang dapat kita cermati, karena persoalan iman dan taqwa seseorang itu erat kaitannya dengan perilaku hidupnya. Manakala perilaku hidupnya semakin patuh dan tunduk kepada Allaah, baik dalam aspek hablumminallaah maupun hablumminannaas, maka berarti dia telah berhasil meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya. Dengan demikian, sesuai dengan janji Allaah, Dia akan melimpahkan dan menetapkan barakah kepada ummatnya yang mampu meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan, ”Seandainya para penduduk suatu negeri itu beriman dan bertaqwa kepada Allaah, niscaya Kami limpahkan atas mereka barakah dari langit maupun dari bumi”[AlA’raaf 96]. Menurut suatu tafsir, barakah itu adalah tetapnya suatu kebaikan pada sesuatu. Dengan demikian, apabila ummat ini mampu meningkatkan kualitas imannya, maka hujan, sumber daya alam di darat maupun di laut akan senantiasa mendatangkan kebaikan bagi penggunanya. Akan tetapi, jika sebaliknya, ‘’Tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami,maka Kami siksa mereka disebabkankarena perbuatannya.” Lebih jauh lagi, ”Apakah belum jelas bagi orang-orang yang mewarisi suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, kalau Kami menghendaki tentu Kami Adzab mereka karena dosa-dosanya, dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?”A(lA’raaf 100).
Pada dasarnya, fitrah atau jati diri manusia adalah patuh dan tunduk kepada Sang Penciptanya, Allaah swt. Namun dalam perjalanannya, fitrah yang bagaikan kaca putih bersih itu sering tertutupi oleh kabut kecintaan dunia, butir-butir noda dan dosa yang bertaburan di sekitarnya. Alhasil, fitrah itu pun menjadi buram penuh dengan bintik-bintik hitam, yang pada gilirannya dapat menggumpal dan menutup rapat fitrah yang bersih dan suci itu. Jika kondisi fitrah sudah demikian gelap, maka cahaya iman yang berada di dalamnya tidak mampu lagi memancarkan sinarnya. Akibatnya, yang bersangkutan pun tidak bisa lagi membedakan antara yang hak dari yang batil, antara yang halal dari yang haram, antara yang adil dari yang dzalim, antara yang ma’ruf dari yang munkar, dan antara yang maslahat dari yang mafsadat.
Seringkali kita merenungkan bagaimana terpuruknya bangsa kita ke lembah kerawanan multidimensi. Pelanggaran-pelanggaran moral dilakukan oleh siapa saja dengan alasan yang berbeda-beda, tidak hanya di tingkat pejabat pusat tetapi dilakukan pula oleh lapisan bawah masyarakat. Bahkan kita pula menyaksikan bagaimana para tokoh dan pemimpin masyarakat saling berseteru karena perbedaan politis yang pada gilirannya saling menyerang di depan publik. Ummat ini membutuhkan tauladan dan pimpinan yang mampu memberikan bimbingan dengan bersatunya kata dan perbuatan.
Dalam Islam, kekuasaan adalah amanah. Artinya, tokoh dan pemimpin masyarakat haruslah memiliki integritas moral yang kuat di tengah berbagai godaan materi dan hedonisme yang amat menggiurkan. Keteladanan akan menjadi dorongan besar bagi ummat manakala para tokoh dan pimpinannya telah menunjukkan integritas dan wibawa di depan mereka. Salah satu keteladanan yang hilang sehingga menyebabkan terjadinya kerawanan multi-dimensi di tengah-tengah masyarakat kita adalah langkanya aspek kejujuran dan maraknya aspek kedustaan.
Jujur dan dusta dua hal yang tidak pernah bersatu. Jujur akan mengantarkan kepada AlBirru (kebaikan) sedangkan dusta kepada Alfujuur (kemaksiatan). ” Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sungguh kejujuran itu akan menunjukkan kepada kebaikan, dan sungguh kebaikan itu akan mengantarkan ke Surga. Dan orang yang senantiasa jujur dan berkeinginan selalu jujur sampai ia tercatat di sisi Allaah sebagai Shiddiqan (yang selalu jujur). Dan hendaklah kalian menjauhi sikap dusta, karena sungguh dusta itu akan menunjukkan kepada kemaksiatan. Dan sungguh kemaksiatan itu akan mengantarkan ke Neraka. Dan orang yang senantiasa dusta dan berkeinginan selalu berdusta sehingga ia tercatat di sisi Allaah sebagai Kadzdzab (yang suka berdusta)’’ [Muttafaqun ’alaih].
Dusta adalah akhlak tercela, penyakit yang paling buruk dari berbagai penyakit lidah. Allaah swt menjelaskan bahwa sifat dusta adalah tanda kemunafikan, ” Sesungguhnya orang-orang munafiq itu benar-benar orang pendusta”[AlMunafiqun 1].
Nabi saw menjelaskan bahwa salah satu tanda kemunafikan adalah perkataan yang diselimuti oleh kedustaan. Dusta yang paling besar adalah dusta yang dilakukan atas nama Allaah dan Nabi saw dalam menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal,”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ”ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allaah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allaah tiadalah beruntung”[AnNahl116].
Dusta dalam usaha dan kerja mengakibatkan hilangnya barakah, sebagaimana diungkapkan oleh hadits:”Penjual dan pembeli bisa melaksanakan transaksinya dengan bebas selama belum berpisah. Jika keduanya itu berlaku benar, jujur dan menjelaskan (dagangannya), maka diberkahilah keduanya dalam jual beli tersebut. Tetapi jika keduanya dusta dan menyembunyikan (aib dagangannya), maka dihapuslah berkah jual beli keduanya tersebut”[HSR Bukhari dan Muslim]. Menceritakan kepada orang lain segala hal yang ia dengar, padahal sangat mungkin terjadi kekeliruan dalam menceritakannya maupun mungkin ditambahi agar menarik, dalam pandangan syariat Islam harus dijauhi, karena hal ini termasuk kepada perbuatan yang mendekati dusta,”Cukuplah seseorang itu disebut pendusta, jika ia menceritakan segala hal yang ia dengar (kepada orang lain)[HSR Muslim]. Nabi saw menjelaskan bahwa ada rukhshah (keringanan) dalam berdusta hanya untuk tiga perkara,” Ummi Kultsum berkata: Tidaklah aku mendengar Rasulullaah saw memberikan rukhshah untuk berdusta kecuali dalam tiga perkara, yaitu dalam perang, dalam memperbaiki manusia yang sedang bersengketa, dan pembicaraan suami kepada istrinya atau sebaliknya (demi terciptanya kerukunan dalam rumah tangga) [HR. Muslim].
Semua orang akan sakit hatinya jika ia didustai oleh orang lain sehingga ia akan membencinya, merendahkan dan mengecam orang yang mendustainya. Ini adalah bukti buruk dari sifat dusta. Oleh karenanya, setiap muslim wajib untuk menghindari dusta dengan cara mebiasakan diri bersifat jujur dalam bertutur dan berbuat.
Marilah sejenak kita simak celah kehidupan dari seorang hamba Allaah berikut. Adalah Abdullah bin Dinar, seorang ajudan Khalifah Umar bin Khattab, pernah berkisah tentang pengalamannya dalam suatu perjalanan bersama Sang Khalifah. Ketika itu, Sang Khalifah hendak menuju ke kota Makkah dari Madinah. Di tengah perjalanan, mereka berjumpa dengan seorang gembala yang sedang turun pulang bersama ratusan kambing gembalaannya. Melihat kambing yang gemuk dan bersih itu Sang Khalifah pun tertarik. Beliau ingin menguji sejauh mana tanggung jawab dan kejujuran si gembala tadi. Maka, terjadilah dialog antara keduanya.
Khalifah: ”Sungguh saya amat tertarik pada kambing-kambingmu yang gemuk lagi bersih. Bolehkah saya membeli seekor daripadanya?”
Gembala: ”Maaf tuan, saya hanya seorang budak. Kambing-kambing ini milik majikan saya yang berada di seberang padang pasir sana!”
Khalifah: ”Yah, kambing ini kan jumlahnya cukup banyak. Seandainya kurang seekor saja, majikanmu mana tahu? Katakan saja kepadanya, yang seekor telah hilang atau diterkam serigala!”
Gembala: ”Bisa saja tuan saya berdusta kepada majikan saya, namun fa-ainal-lah (di mana Allaah)?”
Mendengar jawaban fa-ainal-lah yang spontan keluar dari mulut gembala tadi, Sang Khalifah tertegun kagum. Khalifah faham bahwa gembala yang berada di hadapannya tentulah seorang budak yang berhati suci, memiliki akidah dan keimanan yang begitu dalam kepada Allaah swt. Sama sekali tidak diduga kalau dari mulut seorang pengembala yang bersahaja dan miskin itu keluar jawaban yang mencerminkan betapa tinggi kesadaran keimanannya kepada Allaah swt. Si pengembala sadar kalau Allaah Maha melihat dan Maha mengetahui segala apa yang dikerjakannya, meski berada di tempat yang sunyi, di tengah-tengah padang pasir, jauh dari pantauan majikannya atau siapapun yang ada di sekitarnya. Tampaknya pengembala tadi menghayati firman Allaah: Dan Dia (Allaah) menyertaimu dimana saja kamu berada, dan Allaah itu memang amat melihat terhadap segala apa yang kamu kerjakan(AlHadid 4).
Sang khalifah pun kemudian meminta kepada gembala untuk dipertemukan dengan majikannya. Beliau ingin membebaskan gembala itu dari statusnya sebagai budak. Alhasil, akhirnya gembala tersebut menjadi merdeka. Dengan rasa gembira bercampur haru, Khalifah pun bertutur sambil mendo’akan:”Kalimah fa-ainal-lah telah membebaskan anda dari perbudakan di dunia, semoga dengan kalimah itu juga anda terbebas dari siksa neraka di akhirat kelak!”
Kisah klasik namun amat menarik itu akan senantiasa relevan sepanjang zaman. Hanya dengan hati yang bersih, nurani yang suci, yang dilandasi keimanan kepada Allaah swt, segala bentuk kezhaliman dan kejahatan moral yang kini sedang melanda bangsa kita dapat dicegah dan ditanggulangi. Sekali lagi, kita tidak perlu malu dan enggan untuk berguru kepada sang gembala yang budak itu. Jabatannya memang gembala, statusnya budak, namun dia ’guru besar’ dalam soal aqidah dan akhlaq. Agaknya, kita tidak perlu lagi terjebak pada teori muluk-muluk, dan sibuk larut dalam diskusi tentang makna dan definisi korupsi, karena akar permasalahannya sudah cukup jelas, yaitu kerawanan akhlak/krisis akhlaq, yang bersumber dari krisis aqidah.
Berlaku jujur ketika membawa kesulitan boleh jadi berat. Sedangkan dusta ketika membawa keuntungan sementara boleh jadi nikmat. Tapi tahanlah kesulitan yang sedikit, biarkan tubuh menahan berat yang tak seberapa, asal itu akan membawa kabehagian dan kenikmatan yang banyak. Jauhilah kenikmatan yang sedikit bila itu akan berakibat kesengsaraan yang panjang. Dusta merupakan kemaksiatan yang boleh jadi terasa nikmat di awalnya. Tetapi selanjutnya ia pasti akan membawa dampak buruk sehingga terpuruk pada kondisi yang menyakitkan.
Sebagai penutup, marilah kita camkan peringatan Allaah swt berikut. ”Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allaah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka? Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang telah diberi kitab sebelumnya, setelah masa panjang berlalu maka hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan dari mereka berbuat fasiq” (alHadid 16).
Semoga kita diberikan kemampuan untuk besikap jujur, jujur dalam menilai diri sendiri, jujur dalam bertutur dan jujur dalam bertindak. Tidak membiarkan hati ternoda oleh kedustaan yang kita adakan sendiri, tidak menjadikan jiwa kita cedera oleh kedustaan kita sendiri. Biarkan nurani kita bicara tentang diri kita sendiri, biarkan ia menjadi teman nurani ’dimanakah Allaah’.
