You are viewing: MUSIHOVEN » HOME » BLOGS » Articles » Islamic » Yuk kita tengok shalat kita!
|
If you can see this, then your browser cannot display the slideshow text.
|
Yuk, Kita Tengok Shalat Kita!
Sebagaimana telah diketahui [1] bahwa setiap muslim wajib menuntut ilmu dari setiap aktivitas yang wajib dan sedang kita lakukan. Tentu saja, ilmu shalat wajib kita ketahui. Sebagaimana dijelaskan para ulama bahwa shalat adalah amalan utama manusia di dunia, dan merupakan amalan pertama yang akan dihisab di akhirat. Jika rusak shalatnya, maka rusaklah sisa amalnya. Sebagaimana dalam hadits : “jika baik shalatnya, baik pula amalan lainnya, dan jika rusak shalatnya rusak pula amalan lainnya”.
Sekilas, terlihat tidak rasional. Bagaimana mungkin amalan kita yang beragam jenisnya, ditentukan hanya dengan shalat? Jika demikian, berarti kita cukup melaksanakan shalat saja? Tentu saja tidak demikian. Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan setiap insan, sebagaimana tersirat dalam beberapa ayat dalam Al Quran[2]. Ungkapan tersebut menekankan keutamaan dan pentingnya arti shalat, bahwa kita harus mendirikan dan memelihara shalat kita.
Namun demikian, jika kita telaah lebih jauh, shalat memang mencerminkan keseluruhan aspek hidup manusia. Banyak hal yang diajarkan melalui shalat, jika kita bisa melaksanakannya dengan baik maka baiklah keseharian kita. Shalat tidak hanya sebagai aktivitas ibadah yang terdiri dari rukun qauliyah (ucapan) dan fi’liyah (perbuatan), melainkan sebuah kompilasi ibadah yang merangkum keseluruhan aktivitas kita setiap hari, yang akan segera kita bahas.
Dari sudut pandang fiqh, jelas sudah perkara wajib dan haram dalam shalat. Wajib kita melaksanakan semua rukun dan memenuhi semua syarat sahnya serta menjauhi semua yang membatalkannya.
Namun terkadang kita lupa, atau tidak menyadari atau karena belum tahu akan sesuatu yang wajib kita penuhi dan terhadap sesuatu yang lain yang harus kita jauhi. Lebih jauh lagi, perlu juga kita ketahui akan hal-hal yang disunatkan dalam shalat, dalam rangka menyempurnakan shalat kita. Oleh karena itu mari kita bahas beberapa hal yang sering kali terlupakan, adalah diantaranya:
Shalat bukanlah ibadah yang berdiri sendiri, terdapat syarat-syarat sah nya. Jadi pertama kali perlu dipenuhi dulu syarat sahnya – 1) Suci dari 2 hadas, yakni hadas kecil dan hadas besar, 2) dan suci dari segala najis pada pakaian dan badan dan tempat, 3) dan menutup aurat, 4) dan menghadap kiblat, 5) dan masuk waktu, 6) dan mengetahui dengan fardhu-fardhunya, 7) dan bahwa jangan ia beri’tiqod akan yg fardhu daripada fardhu-fardhu sholat akan sunah, 8) dan meninggalkan segala yg membatalkan sholat – jika tidak terpenuhi, maka jelaslah tidak sah shalatnya.
Terkadang, atau bahkan sering, terlihat seseorang shalat dengan ada bagian aurat yang terbuka. Ketika sujud, punggung bagian bawah, dan lebih ke bawah lagi hingga mungkin ke daerah di bawah pusar, terbuka mengingat baju yang dikenakan tidak kuasa menutupnya (terlalu pendek).
Perkara suci dan bersuci harus senantiasa kita perhatikan. Kita harus selalu menjaga badan, pakaian dan tempat shalat kita suci, itulah kiranya kenapa masyarakat kita telah membudayakan mengenakan sarung ketika shalat sebagai upaya menjamin kesucian pakaian dengan kain sarung yang hanya dikenakan ketika akan shalat – tidak demikian halnya dengan celana yang selalu dipakai sehingga besar kemungkinannya untuk tidak suci lagi.
Bersuci dari hadas besar dan kecil pun ada ilmunya. Bagi yang berada di luar negeri, selalu kita dapati toilet tanpa air untuk bersuci, maka wajiblah kita tahu bagaimana bersuci tanpa air. Sebagaimana kaidah fiqh, ‘wajib mengetahui perkara yang diperlukan dalam perkara yang wajib’. Singkat kata, dalam hal shalat, wajib kita mengetahui ilmu semua syarat sah shalat, karena tidak sah shalat tanpanya.
Harus tahu dan sadar akan hukum pada setiap rukun/bagian yang dikerjakan, apakah wajib atau sunat. Hal ini sangat penting diketahui, sehingga, contohnya, jika suatu ketika lupa saat shalat, maka kita dapat memutuskan apa yang harus dilakukan. Sebagai contoh: tasyahud awal hukumnya sunat, maka jikalau lupa tidak bertasyahud awal kita harus melaksanakan sujud sahwi. Lain halnya jika pada suatu rakaat lupa membaca surat Al Fatihah, maka wajib menambahkan satu rakaat lagi, karena membaca surat Al Fatihah adalah wajib sebab merupakan salah satu rukun qauliyah.
- Tumaninah
Menurut bahasa artinya tenang, sedangkan secara istilah berarti berhenti sebentar, setidaknya sekira-kira membaca ‘subhanallah’. Tumaninah ini merupakan hal yang sering dilalaikan, namun itu merupakan salah satu rukun shalat (menurut sebagian besar imam fiqh), sehingga tidak sah sholat tanpanya.
Tidak berucap dan bertindak selain dari rukun qauliyah dan fi’liyah, serta hal-hal yang disunatkan, selama shalat. Jika bertindak demikian, lebih dari 3 gerakan atau 3 ucapan (huruf) secara berturut-turut, maka batal lah shalatnya.
Sebagai contoh: ber’dehem’ dapat membatalkan shalat (karena berucap lebih dari 3 huruf secara berturut-turut), bergaruk-garuk dan bergeser (yang lebih dari 3 gerakan berturut-turut). Banyak hal lain yang perlu diperhatikan selama shalat, namun yang penting, mari kita hindari bertindak dan berucap selain dari rukun-rukun shalat, toh tidak lama, hanya sekitar 5 menit….
Tepat waktu! Shalat pada waktunya, tidak mengakhir-akhirkannya. Seringkali kita menunda-nunda shalat karena sedang mengerjakan suatu pekerjaan, tanggung. Iya kalau kita masih diberi umur untuk melaksanakannya, kalau tidak? Bagaimana kalau ketika kita menunda shalat, saat itu datanglah ajal kita? Apa yang dapat kita pertanggungjawabkan? Bukankah Allah telah menyuruh untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya! Dan ulama-ulama pun menyerukan dan mencontohkannya!
Ketahuilah bahwa syetan menarik manusia pada kejelakan dengan perlahan, setahap demi setahap seakan tidak terlalu berarti. Pertama menunda shalat, “nanti saja, setelah beres ini dan itu”. Kemudian meninggalkan sunat, pada akhirnya shalat jika hanya ‘sempat’…na’uzubillah….
“Keburu mati!”. Ingatlah selalu akan hal itu, kita tidak tahu kapan maut menjemput. Jadi bersegeralah mengerjakan kebaikan, terutama shalat! Sebagaimana ulama mengajarkan untuk menjauhi tamanni (berangan-angan). Shalat? Nanti saja! Sedekah? Nanti saja! Jangan! Bersegeralah….!
Setidaknya itu hal-hal yang perlu selalu kita cek ulang setiap saat, koreksi dari teman akan sangat bermanfaat dalam menjaga shalat kita tetap pada jalurnya.
Sehingga mudah-mudahan kita tidak termasuk dalam golongan orang yang mendustakan agama, yaitu diantaranya adalah orang yang lalai dalam shalatnya: “Fa wailull lil musholliin, alladziinahum 'an sholaatihim saahuun” (celakalah bagi orang-orang yang sholat, yaitu yang dalam sholatnya saahuun… (Al Maun). Saahuun disini berarti:
- tidak dengan syarat dan rukunnya,
- tidak khusyu dalam sholatnya.
Dalam hal-hal tersebut di atas juga tersirat bagaimana shalat mendidik kita untuk sukses, untuk selalu memperhatikan tindak tanduk kita setiap saat. Selalu care pada persyaratan, sehingga berpikir rasional dengan memenuhi persyaratan/kewajiban terlebih dahulu – tidak lain telah mengamalkan prinsip aksi-reaksi, sebab-akibat.
Taat pada aturan! Patuhi semua prosedur yang ada, jangan melenceng darinya. Sebagai muslim kita harus selalu taat pada aturan sebagai kesepakatan bersama sebagaimana diketahui: al muslimu ‘ala syuruutihim – ‘orang muslim memegang teguh perjanjian’. Jika telah berjanji, jika telah bersepakat akan sesuatu, maka penuhilah. Kita sebagai muslim Indonesia telah bersepakat sebangsa dan setanah air dan memegang teguh Pancasila, maka penuhilah. Yang juga berlaku dalam hal waktu… penuhi janji, laksanakan aturan, tepat waktu! Menghargai dan menggunakan waktu sebaik-baiknya.
Jika saja kita semua, umat muslim, telah menyadari akan hal ini, insya Allah akan tercipta masyarakat muslim yang sesungguhnya. Semua diawali dari kesempurnaan shalat kita….
Mari kita mulai memperbaiki shalat kita, mulai dari pribadi dan keluarga….
M. Islahuddin
(Editor: Umar Faruq)